Pengguna AI harian biasanya dianggap sebagai karyawan paling siap menghadapi masa depan. Mereka cepat belajar, percaya diri, dan terbiasa dengan alat baru. Anggapan itu ada benarnya.
Namun data menunjukkan sisi lain. Kelompok yang paling antusias ternyata juga yang paling sibuk memeriksa dan memperbaiki hasil kerja AI. Berikut gambaran lengkapnya.

Pengguna AI harian: optimisme tinggi, beban juga tinggi
Lebih dari 90% pengguna harian mengatakan AI meningkatkan keyakinan mereka untuk sukses di peran masa depan. Angka ini menggambarkan sikap yang sangat positif terhadap teknologi tersebut.
Di balik keyakinan itu ada beban kerja yang tidak terlihat. Pengguna harian paling sering memverifikasi, mengoreksi, dan menyempurnakan hasil AI. Waktu yang dihemat di satu tahap terpakai di tahap berikutnya.
Memeriksa AI lebih ketat daripada memeriksa rekan kerja
Sebanyak 77% pengguna paling aktif memeriksa hasil AI dengan ketelitian yang sama atau lebih tinggi daripada hasil kerja manusia. Alasannya masuk akal. Tanggung jawab atas kualitas akhir tetap ada pada karyawan.
Ada pola lain yang patut dicermati. Sekitar 56% di antara mereka memakai AI untuk mengerjakan lebih banyak tugas, bukan tugas yang bernilai lebih tinggi. Volume naik, tetapi kualitas pekerjaan belum tentu ikut naik.
Sebanyak 17% juga khawatir ketergantungan pada AI melemahkan kemampuan berpikir mereka.
Kelompok usia 25 sampai 34 menanggung paling banyak
Karyawan berusia 25 sampai 34 tahun sering dianggap paling mudah beradaptasi dengan teknologi. Nyatanya, kelompok ini mencakup 46% karyawan dengan tingkat verifikasi dan koreksi tertinggi.
Mereka memakai AI dengan sering dan percaya diri. Tetapi mereka juga menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengaudit hasilnya. AI mempercepat produksi, sementara tanggung jawab menjaga mutu tetap di tangan mereka.
Janji pelatihan yang belum sampai ke lapangan
Sebanyak 66% pemimpin menyebut pelatihan keterampilan sebagai prioritas investasi utama. Namun hanya 37% karyawan dengan beban perbaikan tertinggi yang merasa akses pelatihannya bertambah. Selisihnya hampir 30 poin.
Banyak perusahaan juga lebih fokus pada fleksibilitas kerja dan program kesejahteraan untuk mengurangi kelelahan. Langkah itu berguna, tetapi hanya meredakan gejala. Penyebabnya, yaitu kurangnya keterampilan dan kejelasan peran, tidak tersentuh.
Hasilnya, kelelahan di era AI lebih terkait paparan terus-menerus pada hasil AI berkualitas rendah tanpa dukungan memadai. Bukan karena karyawan menolak perubahan.
Bertahan di perusahaan, belum tentu puas
Sebanyak 95% karyawan di kelompok ini berniat tetap bekerja di perusahaan yang sama tahun depan. Sekilas ini kabar baik.
Namun hanya 56% yang akan memilih pekerjaan yang sama jika diberi kesempatan lagi. Fasilitas dan fleksibilitas mungkin menahan mereka, tetapi beban revisi yang menumpuk pelan-pelan menggerus keterlibatan.
Solusi: pelatihan yang tepat sasaran dan waktu yang dikembalikan
Solusi yang ditawarkan riset global Workday adalah mengarahkan investasi ke tempat beban paling berat. Dana sebaiknya bergeser dari program yang hanya meredakan gejala ke pelatihan yang mengurangi revisi. Misalnya, pelatihan menyusun perintah AI (prompt) untuk kelompok usia 25 sampai 34.
Karyawan yang konsisten mendapat hasil bersih positif punya kondisi kerja berbeda. Sebanyak 79% dari mereka mengalami peningkatan pelatihan, dan mereka dua kali lebih mungkin menerima pelatihan yang substansial. Sebanyak 57% bekerja di perusahaan yang menambah investasi pada kebersamaan tim.
Hampir semuanya, yaitu 98%, akan merekomendasikan perusahaannya sebagai tempat bekerja. Pelatihan membuat hasil AI lebih baik, dan karyawan ikut mendapat keterampilan baru.

Kesimpulan
Pengguna AI harian bukan masalah. Mereka justru aset penting bagi perusahaan.
Masalahnya muncul ketika semangat mereka tidak diimbangi pelatihan dan dukungan. Perusahaan yang menutup celah itu akan lebih mudah mengubah penghematan waktu menjadi hasil kerja yang nyata.

Pelajari Selengkapnya di buku Stay Human Stay In Charge – Transformasi AI di Korporasi yang bisa didapatkan di http://asosiasi.ai/store
Sumber:



