Ketika pekerjaan selesai lebih cepat, muncul kapasitas baru. Kapasitas itu tidak punya tujuan kalau tidak ada yang memutuskan arahnya. Buku Stay Human, Stay in Charge menekankan pentingnya menentukan jam yang dihemat dipakai untuk apa.
Riset MIT Sloan menyebut cara memakainya. Menurut Mert Demirer, kuncinya adalah menentukan di mana AI bisa mengembalikan waktu pada karyawan.

Opsi 1: Perkecil Tim
Langkah pertama yang disebut Demirer adalah membuat tim lebih kecil. Karena alat AI menaikkan produktivitas, jumlah orang yang dibutuhkan untuk pekerjaan yang sama bisa berkurang.
Tim kecil lebih lincah. Mereka juga menghadapi lebih sedikit kendala koordinasi dan komunikasi. Ini bisa mengurangi hambatan yang muncul dari banyaknya orang yang harus saling menyetujui.
Opsi 2: Geser Sumber Daya ke Ujung Alur
Opsi kedua adalah memindahkan sumber daya untuk menangani hambatan di akhir siklus. Pada pengembangan software, itu berarti menggabungkan proyek, merilis produk jadi, serta memelihara dan memperbarui produk.
Di sini organisasi menghadapi keputusan penting. Ada dua jalur yang disebut dalam riset:
- Melatih ulang sebagian pekerja, atau merekrut orang baru untuk tugas-tugas tersebut.
- Mempertahankan semua developer di peran mereka, lalu membentuk lebih banyak tim yang bisa menggarap lebih banyak proyek.
Tidak ada jawaban tunggal. Pilihan bergantung pada kondisi dan tujuan organisasi.
Opsi 3: Pakai AI untuk Meringankan Alur Manusia
Waktu yang dihemat juga bisa dipakai membantu tahap yang dikerjakan manusia. Contoh dari riset ini mencakup mematangkan prototipe, merangkum rapat, dan mengurangi birokrasi persetujuan.
Pendekatan ini sejalan dengan temuan para peneliti. Dampak AI paling besar saat ia meringankan hambatan di hilir, bukan saat ia hanya mempercepat satu tahap.
Ukur dengan Hasil Akhir
Setelah memilih opsi, ukur dengan hasil akhir, bukan jumlah aktivitas. Riset ini menunjukkan alasannya. Jumlah rilis aplikasi naik, tetapi unduhan dan ulasan tidak.
Jadi, tanyakan apakah jam yang dialihkan menghasilkan sesuatu yang sampai ke pengguna. Jumlah kode yang ditulis atau draf yang dibuat belum menjawab pertanyaan itu.
Para peneliti memperkirakan AI yang makin baik akan mampu menangani sebagian hambatan ini. Sementara itu, pemimpin perlu melihat di mana alat yang ada benar-benar membantu.

Untuk pembahasan implementasi AI yang terukur di korporasi, Anda bisa membaca buku Stay Human, Stay in Charge: Transformasi AI di Korporasi di asosiasi.ai/store.
Referensi:



