Sebagian besar organisasi masih kesulitan mengubah investasi AI menjadi hasil bisnis yang terukur.
BCG, Where’s the Value in AI? (2024)
Investasi AI terus bertambah, namun sebagian besar organisasi masih kesulitan mengubahnya menjadi hasil bisnis yang nyata dan terukur.
Hambatan terbesar bukan pada algoritma. Menurut BCG, sekitar 70% hambatan berasal dari manusia dan proses, 20% dari teknologi, dan hanya 10% dari algoritma itu sendiri.
Riset McKinsey menemukan pola yang senada: organisasi yang menata ulang alur kerja (workflow) dan menetapkan KPI yang jelas untuk inisiatif AI-nya, jauh lebih mungkin melihat dampak bisnis yang nyata — dibanding organisasi yang hanya membeli tools baru.
BCG merinci langkah konkretnya: komitmen strategis tertulis dari pucuk pimpinan, asesmen kematangan AI untuk memetakan gap kapabilitas, dan tata kelola implementasi yang fokus pada manusia & proses — persis kerangka 4 pilar (Strategy, People, Process, Governance) di bawah ini, bukan cuma menambah lisensi tools baru.
Arah dan prioritas penggunaan AI yang selaras dengan tujuan bisnis, bukan sekadar mengikuti tren.
Kompetensi dan kepercayaan diri karyawan dalam menggunakan AI secara relevan dengan pekerjaannya.
Alur kerja yang didesain ulang di sekitar AI, lengkap dengan KPI yang jelas untuk mengukur dampaknya.
Kontrol, kebijakan, dan akuntabilitas yang menjaga penggunaan AI tetap aman dan bertanggung jawab.
Workshop & pendampingan AI untuk perusahaan — GarudaFood, HKI Infrastruktur, Warna Warni Advertising, dan mitra korporat lainnya
Ringkasan riset, kerangka 4 pilar, dan langkah awal — dalam format PDF siap presentasi.
Chat via WhatsAppSumber: BCG, Where's the Value in AI? (2024, 1.000 CxO, 59 negara) · McKinsey, The State of AI (2025, 1.491 responden, 101 negara) · BCG, AI Adoption in Banking (2024)
© 2026 Asosiasi AI Indonesia
WhatsApp us