Blog Content

Home – Blog Content

Paradoks Indonesia di Era AI: Ketika Murid Lebih Cepat dari Literasinya

Adopsi masif, halusinasi tak dikenal, dan kehebatan netizen yang menunggu arah

 

Sebuah kegelisahan yang tak pernah kita bicarakan

Coba perhatikan apa yang terjadi setiap malam di ribuan rumah di negeri ini.

Bayangkan seorang siswa SMA sedang duduk di depan meja belajarnya. Hari sudah larut. Lampu kamarnya masih menyala sementara seluruh rumah sudah gelap. Di depannya, ponsel, tugas sejarah yang belum tersentuh, padahal batas waktu tinggal beberapa jam lagi.

Maka ia melakukan apa yang sudah menjadi kebiasaan anak seusianya. Ia membuka ChatGPT. Mengetik pertanyaan. Dua puluh detik kemudian, layar ponsel menampilkan tiga paragraf yang ditulis dalam bahasa yang rapi, ilmiah, meyakinkan. Lengkap dengan nama tokoh, tanggal, dan angka.

Ia menyalin. Memformat ulang sedikit. Lalu mengirim ke gurunya lewat WhatsApp.

Yang tidak ia sadari, adalah bahwa nama seorang jenderal dalam jawaban itu tidak pernah terlibat dalam peristiwa tersebut. Tanggalnya salah. Angka korban yang diberikan ChatGPT bukan hasil riset sejarah, melainkan tebakan statistik dari pola bahasa.

Cerita ini bukan rekaan. Ini adalah gambaran biasa dari keseharian pendidikan kita di era AI. Dan persoalannya bukan pada anak itu. Persoalannya pada ketidaktahuannya. Tidak ada yang pernah mengajarinya bahwa mesin yang sangat ia percayai itu, bisa, dengan penuh keyakinan, mengeluarkan informasi yang salah.

 

Tentang kecepatan yang membingungkan

Sebuah survei global baru saja merilis temuan tentang penggunaan AI di kalangan mahasiswa. Hasilnya: 95% mahasiswa Indonesia menggunakan AI generatif untuk membantu studi mereka [1].

Survei lain, dari Tirto dan Jakpat pada Mei 2024, melibatkan 1.501 pelajar usia 15–21 tahun. Hasilnya 86,21% dari mereka menggunakan AI seperti ChatGPT setidaknya sekali sebulan untuk mengerjakan tugas sekolah atau kuliah. Sebagian besar menggunakannya untuk merangkum artikel. Sisanya untuk menulis esai atau mencari informasi [2].

Apa artinya? Generasi muda kita, terlepas dari segala kekurangan, ternyata luar biasa cepat dalam mengadopsi teknologi baru. Mereka tidak malas. Tidak bodoh. Mereka justru termasuk yang paling adaptif di dunia.

Jadi kita hidup dalam sebuah paradoks. Di satu sisi, kecepatan adaptasi yang membuat iri banyak negara. Di sisi lain, pemahaman tentang cara kerja AI yang sangat dangkal. Antusiasme tanpa fondasi. Pertanyaannya kemudian: apakah ini kesalahan anak-anak kita? Ataukah sistem yang tidak sempat membekali mereka?

 

“Berbohong adalah fitur, bukan bug”

Mari kita pahami dulu bagaimana AI bekerja. Karena tanpa pemahaman itu, kita hanya akan berputar-putar.

AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude tidak bekerja seperti mesin pencari. Mereka tidak “mengetahui” fakta dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. AI generatif bekerja dengan probabilitas: memprediksi kata berikutnya berdasarkan pola dari miliaran teks yang pernah mereka baca selama pelatihan.

Mereka ahli merangkai bahasa. Ahli meniru gaya ilmiah. Tapi mereka tidak punya mekanisme kebenaran internal. Dalam bahasa teknis, ini disebut AI hallucination. Dalam bahasa yang lebih jujur: AI berbohong dengan percaya diri.

 

Angka-angka yang tidak bisa diabaikan

Seberapa parah? Sebuah studi terhadap sitasi yang dihasilkan GPT‑4o menemukan bahwa 19,9% sitasi tersebut sepenuhnya fiktif. Tidak pernah ada sebagai publikasi nyata [3]. Studi lain yang menganalisis 636 sitasi dari 84 makalah menemukan bahwa 55% sitasi GPT‑3.5 sepenuhnya fiktif. GPT‑4 yang lebih baru memang lebih baik, tapi tetap bermasalah: 18% sitasinya tidak nyata [4].

 

Sebuah peringatan dari pengadilan Amerika

Ada peristiwa nyata yang sempat menggegerkan dunia hukum. Pada 2023, seorang pengacara di Amerika Serikat menggunakan ChatGPT untuk menyiapkan dokumen hukum. Hakim kemudian menemukan bahwa semua yurisprudensi yang dikutip tidak pernah ada. Semuanya karangan ChatGPT, ditulis dengan gaya yang sangat meyakinkan. Pengacara itu dijatuhi sanksi [5].

Coba renungkan. Seorang pengacara profesional, di negara dengan akses penuh ke database hukum, bisa tertipu. Lalu bagaimana dengan siswa-siswi kita? Mereka tidak punya akses ke jurnal akademik berbayar, tidak pernah diajari cara memverifikasi informasi. Yang mereka punya hanya ponsel dan keyakinan bahwa komputer pasti benar.

Bukan salah mereka. Tapi konsekuensinya tetap nyata.

 

Ketika kerapuhan integritas bertemu AI

Apa yang ditemukan KPK dari hampir setengah juta responden

Dan konsekuensi itu, agaknya, sudah mulai terlihat di berbagai tingkat.

Komisi Pemberantasan Korupsi, melalui Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024, baru saja merilis potret yang tidak nyaman. Survei ini melibatkan 449.865 responden dari 36.888 satuan pendidikan. Jumlah yang sangat besar. Cermin yang jujur.

Temuan KPK menunjukkan bahwa kecurangan akademik merajalela. Tapi lebih dari itu, masalah integritas juga mengakar di level pengelolaan sekolah. Ada praktik penggelembungan biaya. Manipulasi dokumen. Penggunaan dana BOS yang tidak sesuai peruntukan [6].

 

Angka 69,50 dan artinya

Secara keseluruhan, Indeks Integritas Pendidikan 2024 berada di angka 69,50. Masuk kategori “korektif”. Artinya: upaya perbaikan integritas sudah mulai dilakukan, tapi implementasi dan pengawasan belum merata, belum konsisten, belum optimal [6].

Integritas yang rapuh. Dan di atas kerapuhan itu, datang AI. Bukan sebagai penyebab, tapi sebagai katalis. Mempercepat, memperlebar, memperumit.

Guru: ujung tombak yang kelelahan

Sekarang, mari bicara tentang guru. Mereka yang berada di garis paling depan. Yang seharusnya menjadi benteng terakhir antara siswa dan informasi yang tidak terverifikasi.

Data nasional terakhir dari Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2022 menunjukkan rata-rata nilai hanya 54,05 dari 100. Itu lebih rendah dari Standar Kompetensi Minimum 55 yang ditetapkan pemerintah [9]. Angka ini, jangan disalahartikan, bukan untuk mempermalukan guru. Tapi untuk menunjukkan bahwa sistem tidak pernah memberi mereka cukup bekal.

Dan sekarang, sistem yang sama ingin mereka mengajar tentang AI. Tanpa pelatihan, tanpa infrastruktur, tanpa dukungan.

 

Pelajaran pahit dari Seoul

Korea Selatan, negara dengan infrastruktur teknologi terbaik di dunia, memberikan pelajaran yang pahit. Pemerintah Korea menggelontorkan lebih dari US$850 juta untuk program AI Textbook. Program itu mati dalam empat bulan [11]. Mengapa? Karena 98,5% dari 2.626 guru menyatakan pelatihan yang mereka terima tidak memadai [12]. Dan 87,4% guru merasa tidak siap serta kurang mendapat dukungan [13].

Korea Selatan, dengan uang sebanyak itu, dengan infrastruktur kelas dunia, dengan tradisi pendidikan yang kuat, tetap gagal. Gagal karena lupa bahwa jantung dari setiap reformasi pendidikan adalah guru. Bukan perangkat. Bukan aplikasi.

 

Kondisi Indonesia: dari broadband hingga ruang kelas yang rusak

Di Indonesia, tantangannya bahkan lebih berat. Survei APJII 2025 menunjukkan bahwa fixed broadband di rumah tangga baru sekitar 38,7% [14]. Artinya, sebagian besar sekolah dan rumah tangga masih mengandalkan koneksi seluler yang tidak stabil.

Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah 2024/2025 menunjukkan bahwa lebih dari 60% dari 1,18 juta ruang kelas SD dalam kondisi rusak, ringan, sedang, berat [15]. Puluhan ribu sekolah butuh perbaikan fisik, bahkan sebelum bicara tentang komputer dan internet.

Laporan BPS 2025 mencatat sekitar 2.721 desa atau kelurahan yang sama sekali belum terjangkau sinyal telepon seluler [16]. Dan survei APJII 2025 juga menunjukkan, meskipun penetrasi internet nasional sudah 80,66% (sekitar 229–230 juta pengguna), masih ada sekitar 55 juta penduduk Indonesia yang belum terkoneksi internet [14][17].

 

Satu masalah lagi: kurikulum yang tak pernah berhenti berubah

Ditambah lagi: indeks integritas pendidikan turun [18]. Kurikulum berganti 11–12 kali sejak kemerdekaan [19]. Setiap sistem baru datang dengan “penyempurnaan”. Setiap “penyempurnaan” membuat guru kembali ke titik nol. Tidak ada ruang bagi guru untuk berkembang. Dan di atas semua itu, kita hendak memasukkan AI ke dalam kelas.

 

Kehebatan netizen yang sering kita lupakan

Setelah semua data berat itu, Indonesia masih punya sesuatu yang tidak dimiliki banyak negara.

Indonesia adalah negara dengan optimisme AI tertinggi di dunia. Sebanyak 80% masyarakat Indonesia percaya bahwa produk dan layanan berbasis AI memberikan lebih banyak manfaat daripada risiko. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang hanya sekitar 39% [20]. Orang Indonesia tidak takut pada AI. Mereka justru antusias. Ini bukan hal kecil.

 

Innovation overperformer versi WIPO

Indonesia juga disebut innovation overperformer versi WIPO. Dalam Global Innovation Index 2025, Indonesia menempati peringkat ke‑55 dari 139 negara. Dikategorikan sebagai negara yang kinerja inovasinya berada di atas yang diharapkan untuk tingkat pendapatan nasionalnya [21]. Dengan sumber daya terbatas, Indonesia mampu menghasilkan output inovasi yang relatif lebih tinggi.

Statistik kekayaan intelektual menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat pada permohonan model utilitas [22]. Ini mencerminkan menguatnya kreativitas teknis lokal. Orang Indonesia pandai membuat, merekayasa, beradaptasi.

 

Dari QRIS ke TikTok: adaptasi yang luar biasa cepat

Adaptasi teknologi Indonesia luar biasa cepat. Hingga triwulan I 2025, sekitar 38,1 juta UMKM telah menggunakan QRIS [23]. Nilai GMV e‑commerce Indonesia pada 2024 mencapai sekitar US$65 miliar, menjadikannya pasar e‑commerce terbesar di Asia Tenggara [24].

Dan ini yang menarik: Indonesia adalah negara dengan pengguna TikTok paling aktif di dunia. Sekitar 157,6 juta pengguna pada tahun 2024 [25]. Rata-rata warga Indonesia menghabiskan 7 jam 22 menit per hari online, lebih tinggi dari rata-rata global 6 jam 38 menit [26].

 

Peluang yang masih menganggur

Apa artinya? Infrastruktur distribusi konten Indonesia adalah salah satu yang terkuat di dunia. Jika ada konten edukasi tentang AI hallucination, tentang cara memverifikasi fakta, tentang penggunaan AI yang etis, dan konten itu dibuat dengan cara yang menarik dan relevan, konten itu akan menyebar dengan cepat.

Masalahnya, sebagian besar konten AI di media sosial Indonesia saat ini justru mengajarkan “cara menghilangkan jejak AI dari tugas” atau “cara membuat AI menulis esai untukmu”. Bukan “cara memverifikasi apakah AI berbohong”. Ini peluang besar yang masih belum dimanfaatkan.

 

Empat cerita dari tetangga

Vietnam: efisiensi mengalahkan anggaran

Tidak perlu mencari contoh jauh-jauh. Tetangga kita punya cerita yang bisa dipelajari.

Dengan PDB per kapita yang relatif dekat dengan Indonesia, Vietnam berhasil mencatat skor PISA 2022 untuk matematika 469, sementara Indonesia 366. Selisih 103 poin [27][28].

 

Singapura: mulai dari yang kecil

Mereka tidak langsung melompat ke kurikulum AI penuh. Mereka memulai dengan program “AI for Fun” selama 5 jam untuk siswa sekolah dasar [29]. Pengenalan ringan. Bukan beban.

 

China: tegas, terstruktur, dan bertahap

Pada 2025, Kementerian Pendidikan Tiongkok menerbitkan dua dokumen resmi tentang pendidikan AI. Mereka membangun sistem bertingkat dari SD hingga SMA. Di sekolah dasar, siswa dilarang menggunakan secara mandiri alat AI generatif. Penggunaan AI di semua jenjang harus diawasi guru, menjaga keamanan data, integritas akademik, dan tidak menggantikan peran utama guru [30].

 

Korea Selatan: peringatan yang tidak boleh diabaikan

Kita sudah bahas. US$850 juta hangus dalam empat bulan karena guru tidak siap. Pelajaran: jangan pernah meluncurkan program AI berskala nasional sebelum guru dilatih dan infrastruktur siap [11][12][13].

Dari keempat tetangga ini, satu kesimpulan sederhana: keberhasilan tidak datang dari teknologi canggih atau uang melimpah, tapi dari kesiapan manusia, konsistensi kebijakan, dan keberanian memulai dari yang kecil.

 

Tentang apa yang bisa kita mulai, sekarang

Untuk komunitas dan kreator konten

Buat konten edukasi tentang AI hallucination yang menarik dan mudah dicerna. Gunakan format yang sudah terbukti berhasil di TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts. Indonesia memiliki 157,6 juta pengguna TikTok aktif [25]. Jika hanya 1% dari mereka yang menonton konten literasi AI, itu sudah 1,5 juta orang.

Untuk guru

Mulai dari satu kelas. Ajarkan dua aturan sederhana: “Tanya AI, tapi jangan percaya begitu saja” dan “Jika AI memberi fakta, cari sumber kedua.” Buat aturan kelas: setiap tugas yang menggunakan AI wajib menyertakan deklarasi penggunaan.

Untuk orang tua

Tanyakan kepada anak Anda: “Kamu pakai AI untuk tugas ini? Bagian mana yang kamu kerjakan sendiri?” Bukan untuk menghakimi, tapi untuk membangun kesadaran.

Untuk sekolah dan universitas

Buat kebijakan lokal yang realistis. Jangan melarang total. Atur dengan transparansi dan verifikasi.

Untuk pembuat kebijakan

Jangan terburu-buru. Mulai dengan pilot di 500 sekolah. Ukur hasilnya. Dengarkan suara guru. Investasi terbesar harus untuk pelatihan guru, bukan untuk perangkat. Dan hentikan siklus ganti menteri ganti kurikulum.

 

Optimisme yang beralasan

Indonesia memiliki semua bahan untuk menjadi pemimpin literasi AI di Asia Tenggara. Populasi muda yang adaptif [1][2]. Optimisme yang tulus [20]. Kreativitas yang diakui dunia [21][22]. Infrastruktur distribusi konten yang kuat [25][26].

 

Satu kalimat untuk memulai

Yang kita butuhkan sekarang bukanlah teknologi canggih atau anggaran raksasa. Yang kita butuhkan adalah arah. Dan keberanian untuk memulai. Memulai dari hal yang paling sederhana: mengajarkan satu fakta di kelas.

“AI bisa berbohong dengan percaya diri. Itu adalah fiturnya, bukan bug‑nya. Tugas kita adalah menjadi manusia yang lebih pintar dari mesin.”

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi di dalamnya terkandung sebuah perubahan cara berpikir. Bahwa AI, secanggih apa pun, tetaplah alat. Alat yang paling canggih sekalipun, di tangan pengguna yang tidak terlatih, hanya akan menghasilkan kekacauan. Tapi di tangan pengguna yang cerdas dan kritis, ia bisa menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih baik.

 

Sebuah keyakinan penutup

Indonesia bisa menjadi negara dengan pengguna AI paling cerdas di dunia. Bukan pembuat model. Bukan pembuat chip. Tapi pengguna yang tahu kapan AI benar, kapan AI berbohong, dan bagaimana memanfaatkannya tanpa kehilangan akal sehat.

Itu adalah keunggulan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Itu adalah keunggulan yang dibangun dari literasi, kesadaran, dan keberanian untuk terus belajar.

Dan Indonesia, dengan segala kehebatan netizen-nya, dengan segala optimisme dan kreativitasnya, sangat mampu mencapainya.

Mungkin tidak dalam waktu dekat. Tapi perjalanan harus dimulai. Dan perjalanan itu dimulai dari kesadaran bahwa AI bisa berbohong, dan kita yang harus lebih pintar.

Karena pada akhirnya, jika literasi digital mati, ia tak akan mati sendirian. Tapi ia juga tak akan hidup sendirian. Ia akan hidup jika kita, bersama-sama, memutuskan untuk menghidupkannya.

 

Referensi:

[1] GoodStats (merujuk Chegg & Yonder Consulting). (2025). 95% Mahasiswa RI Gunakan AI dalam Proses Pembelajaran (ringkasan Chegg Global Student Survey 2025). Tersedia di: https://data.goodstats.id/statistic/95-mahasiswa-ri-gunakan-ai-dalam-proses-pembelajaran-FIm7A

[2] Tirto.id & Jakpat. (2024). *Survei Penggunaan AI Generatif di Kalangan Pelajar Usia 15-21 Tahun*. Jakarta: Tirto.id. Tersedia di: https://tirto.id/disrupsi-ai-dalam-pendidikan-dan-masa-depan-anak-indonesia-hcxn 

[3] Linardon, J., et al. (2025). Prevalence of fabricated citations in GPT‑4o generated literature reviews. JMIR Mental Health. Tersedia di: https://scienmag.com/new-study-uncovers-widespread-fabricated-and-inaccurate-citations-in-ai-generated-mental-health-research/ 

[4] Walters, W. H., & Wilder, E. I. (2023). Fabrication and errors in the bibliographic citations generated by ChatGPT. Scientific Reports, 13, 21445. DOI: 10.1038/s41598-023-41032-5. https://www.nature.com/articles/s41598-023-41032-5 

[5] Mata v. Avianca, Inc., No. 1:22-cv-01461 (S.D.N.Y. 2023). Tersedia di: https://www.jdsupra.com/legalnews/federal-court-turns-up-the-heat-on-1849454/ 

[6] Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (2025). Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024. Tersedia di: https://www.kpk.go.id/id/ruang-informasi/berita/temuan-hasil-spi-pendidikan-2024-gratifikasi-masih-membayangi-ruang-kelas 

[7] Macháček, V., & Srholec, M. (2022). Predatory publishing in Scopus: evidence on cross‑country differences. Quantitative Science Studies, MIT Press. DOI: 10.1162/qss_a_00213. https://direct.mit.edu/qss/article/3/3/859/113621/Predatory-publishing-in-Scopus-Evidence-on-cross

[8] (2025). Studi bibliometrik tentang retraksi Indonesia. Quality & Quantity, Springer. DOI: 10.1007/s11135-025-02453-8. https://link.springer.com/article/10.1007/s11135-025-02453-8

[9] Hilmiatussadiah, K. G., Ahman, E., & Disman, D. (2024). Teacher competency: Descriptive study of Guru Penggerak. Jurnal Inovasi Kurikulum (JIK), Universitas Pendidikan Indonesia. Diakses dari https://ejournal.upi.edu/index.php/JIK/article/download/63482/pdf_id 

[10] World Bank. (2013). The Impact of Teacher Certification on Student Learning in Indonesia. Tersedia di: https://documents1.worldbank.org/curated/en/706731468259517603/pdf/732640BRI0BAHA00disclosed0100170120.pdf 

[11] India Today. (2025). AI textbook experiment in South Korea fails within 4 months. Tersedia di: https://www.indiatoday.in/education-today/news/story/ai-textbook-experiment-in-south-korea-fails-2828738-2025-12-01 

[12] Friedrich Naumann Foundation for Freedom. (2024). South Korea Slows Down AI Education. Tersedia di: https://www.freiheit.org/north-and-south-korea/south-korea-slows-down-ai-education 

[13] Business Insider. (2025). South Korea’s AI textbook experiment is failing, and it’s a warning for the rest of the world. Tersedia di: https://www.businessinsider.com/ai-in-school-south-korea-textbook-rollback-jobs-education-2025-8 

[14] Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). (2025). Survei Internet Indonesia 2025: Penetrasi Capai 80,66%, Tantangan Masih Besar (ringkasan resmi hasil Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2025). Tersedia di: https://gizmologi.id/insight/survei-internet-indonesia-2025/ 

[15] Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. (2025). Statistik Kondisi Ruang Kelas SD Tahun Ajaran 2024/2025. Diringkas dalam: “Miris, Lebih dari 60% Ruang Kelas SD Rusak pada Tahun Ajaran 2024/2025”. GoodStats/Katadata, 4 Juli 2025. Tersedia di: https://goodstats.id/article/miris-lebih-dari-60-ruang-kelas-sd-rusak-pada-tahun-ajaran-2024-2025-AN1sS 

[16] Badan Pusat Statistik & Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. (2025). Statistik Desa/Kelurahan Menurut Cakupan Sinyal Telepon Seluler 2025. Diringkas dalam: “Ribuan Desa RI Belum Terjangkau Sinyal Telepon Seluler pada 2025”. Databoks Katadata, 11 Desember 2025. Tersedia di: https://databoks.katadata.co.id/teknologi-telekomunikasi/statistik/693a8e3de5e0e/ribuan-desa-ri-belum-terjangkau-sinyal-telepon-seluler-pada-2025 

[17] Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). (2025). Survei Profil Internet Indonesia 2025. Diringkas dalam: “55 Juta Orang Indonesia Belum Terkoneksi Internet, Ini Sebabnya”. DetikINET, 10 Agustus 2025. Tersedia di: https://inet.detik.com/telecommunication/d-8051257/55-juta-orang-indonesia-belum-terkoneksi-internet-ini-sebabnya

[18] Kumparan News. (23 April 2025). “KPK Ungkap SPI Pendidikan Nasional 2024 Dapat Skor 69,50, Apa Artinya?”. Diakses dari https://kumparan.com/kumparannews/kpk-ungkap-spi-pendidikan-nasional-2024-dapat-skor-69-50-apa-artinya-24wIbZbRXx7

[19] detikNews. (2025). Gonta-ganti Kurikulum Pendidikan Indonesia (mengulas kronologi perubahan kurikulum nasional dari Rencana Pelajaran 1947 hingga Kurikulum Merdeka). Diakses dari https://news.detik.com/x/detail/intermeso/20250502/Gonta-Ganti-Kurikulum-Pendidikan-Indonesia/  

[20] GoodStats (merujuk Ipsos AI Monitor 2024). (2025). AI Bukan Momok: 80% Publik Indonesia Yakin Teknologi Ini Menguntungkan. Diakses dari https://data.goodstats.id/statistic/ai-bukan-momok-80-publik-indonesia-yakin-teknologi-ini-menguntungkan-b1RU1

[21] World Intellectual Property Organization (WIPO). (2025). Diakses dari https://www.wipo.int/edocs/gii-ranking/2025/id.pdf

[22] Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DGIP). (2024–2025). Statistik Paten, Merek, dan Model Utilitas Indonesia serta laporan “Dampak Pelindungan Kekayaan Intelektual Terhadap Pertumbuhan Ekonomi”. Diakses dari https://www.dgip.go.id/ dan https://ipxpose.dgip.go.id/storage/409/01K3GKTZF3HXCXEP3YB5XX85GF.pdf 

[23] Bank Indonesia. (2025). Statistik QRIS – Triwulan I 2025, dirangkum dalam “BI Catat 38,1 Juta UMKM Menggunakan QRIS Per Triwulan I 2025”. JPNN, 7 Mei 2025. Diakses dari https://www.jpnn.com/news/bi-catat-381-juta-umkm-menggunakan-qris-per-triwulan-i-2025 

[24] idEA (Asosiasi E‑Commerce Indonesia) & Google/Temasek/Bain. (2024–2025). Laporan Ekonomi Digital Indonesia 2024, dirangkum dalam “Punya GMV US$ 65 Miliar di 2024, idEA Sebut Bisnis E‑Commerce Indonesia Menjanjikan”. Kontan, 24 November 2024. Diakses dari https://industri.kontan.co.id/news/punya-gmv-us-65-miliar-di-2024-idea-sebut-bisnis-e-commerce-indonesia-menjanjikan 

[25] CNN Indonesia. (2024). Indonesia Pengguna TikTok Terbanyak di Dunia, Kalahkan AS hingga Rusia (mengutip data Statista 2024 tentang jumlah pengguna TikTok per negara). Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20241007094807-192-1152374/indonesia-pengguna-tiktok-terbanyak-di-dunia-kalahkan-as-hingga-rusia

[26] We Are Social & Meltwater. (2025). Digital 2025 Global Overview Report – durasi rata‑rata penggunaan internet harian di Indonesia dan dunia, diringkas dalam “Indonesia Negara Nomor 1 di Dunia, Warga RI Sudah Kecanduan Akut”, CNBC Indonesia (29 November 2025). Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/tech/20251129102801-37-689608/indonesia-negara-nomor-1-di-dunia-warga-ri-sudah-kecanduan-akut 

[27] Vietnam.vn. (2023). Học sinh Việt Nam tự hàng trên bảng xếp hạng PISA 2022. Tersedia di: https://www.vietnam.vn/id/hoc-sinh-viet-nam-tut-hang-tren-bang-xep-hang-pisa-2022 

[28] OECD. (2023). PISA 2022 Results (Volume I): The State of Learning Worldwide. Tersedia di: https://worldpopulationreview.com/country-rankings/pisa-scores-by-country 

[29] Infocomm Media Development Authority (IMDA) Singapore. (2025). AI for Fun (Primary) Programme. Tersedia di: https://www.imda.gov.sg/how-we-can-help/code-for-fun/ai-for-fun-primary 

[30] Ministry of Education of the People’s Republic of China. (2025). Guidelines for AI Education and the Use of Generative AI in Primary and Secondary Schools (ringkasan kebijakan). Dirujuk melalui “Guideline to regulate use of artificial intelligence in schools”, China Daily, 15 Mei 2025, dan “China issues guidelines to promote AI education in primary and secondary schools”, Global Times, 11 Mei 2025. Tersedia di: https://www.globaltimes.cn/page/202505/1333878.shtml

Popular Articles

Most Recent Posts

  • All Post
  • AI
  • AI untuk Analisis Data
  • AI untuk Bisnis dan Produktivitas
  • AI untuk Desain dan Kreativitas
  • Ai Untuk Industri
  • AI untuk Keamanan dan Cybersecurity
  • AI untuk Kesehatan
  • AI untuk Konten Digital
  • AI untuk Marketing dan SEO
  • Ai Untuk Pendidikan
  • Ai Untuk Startup
  • AI untuk Teknologi dan Inovasi
  • Digital
  • Event
  • Marketing
Alamat
  • Representative office at Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, South Jakarta
  • Secretariat Office at Jl. Lebak Bulus Raya, Kebayoran Lama, South Jakarta
  • Knowledge Center Jl. Nusa Indah Tangerang

No Wa: 62 811-1913-553

Services

FAQ's

Privacy Policy

Terms & Condition

Team

Contact Us

Services

FAQ's

Terms & Condition

Team

Contact Us

© 2024 Created with asosiasi.ai