Ada yang takut, ada yang melihat.
Ketika otomatisasi berjalan begitu cepat, banyak yang mulai pesimis. Mereka melihat AI seperti gelombang besar yang akan menenggelamkan usaha kecil. Raksasa teknologi, kata mereka, akan memonopoli semuanya.
Gary Vaynerchuk mendengar ketakutan itu. Dan dia tidak setuju.
Bukan karena dia naif. Tapi karena dia melihat sejarah.
Dulu kita takut pada listrik. Lalu kita takut pada internet.
Setiap kali teknologi melompat, selalu ada yang meramal kiamat bagi pekerja keras. Tapi Gary ingatkan: ketika biaya membuat produk jadi sangat murah, kemenangan bergeser. Bukan lagi siapa punya pabrik terbesar. Tapi siapa punya brand paling kuat.
Dan brand, kata Gary, dibangun lewat konten organik. Hal yang tidak butuh izin siapa pun.

Lalu, apa yang harus dilakukan?
Gary punya satu jawaban sederhana:
Jadilah pilot asisten AI, bukan penonton.
Gunakan AI untuk melipatgandakan hasil kerja. Bukan untuk berhenti bekerja. Dalam percakapan dengan seorang pewawancara, dia ditanya: bagaimana jika semua yang kamu bangun tiba-tiba lenyap?
Jawabannya singkat: “Saya akan membuat aplikasi berlangganan 5–5–50 sebulan. Lalu membuat konten organik tanpa batas di LinkedIn, Twitter, TikTok, untuk menarik pelanggan.”
Dia tidak meratapi apa yang mungkin hilang. Dia menghitung apa yang masih bisa dibuat.
Tapi bukankah AI akan mengambil semuanya?
Pertanyaan itu wajar. Gary sendiri mengakui bahwa middle class of entrepreneurship bisa terancam. Beberapa perusahaan besar mungkin makan semuanya.
Tapi kemudian dia membalik logika:
Jika hanya 79 perusahaan yang menguasai segalanya, pemerintah akan turun tangan. Mungkin kita akan bekerja tiga hari seminggu, dengan subsidi dari perusahaan besar. Mungkin kita punya lebih banyak waktu untuk seni, keluarga, dan proyek kecil yang menghasilkan recehan.
Dia tidak tahu pasti. Tapi dia tahu satu hal: berbaring menangis bukanlah pilihan.
Analogi dari Gary: Tukang batu dan arsitek.
AI membagi orang menjadi dua: arsitek yang merancang, dan tukang batu yang hanya menjalankan perintah. Banyak orang takut menjadi tukang batu yang digantikan mesin.
Solusinya? Bukan berhenti. Tapi belajar menjadi arsitek. Itu dimulai dari self-awareness: siapa saya? Lalu humility: saya rela memulai dari kecil. Lalu curiosity: apa yang sedang terjadi di budaya pop saat ini?
Gary tidak punya resep ajaib. Tapi dia punya keyakinan bahwa pesimisme tidak praktis.
Satu hal terakhir dari Gary Vee.
Wartawan itu bertanya: apa yang paling disalahpahami tentang AI saat ini?
Jawabannya: “Kebalikan dari apa pun yang dipikirkan orang.”
Mereka yang terlalu optimis butuh diingatkan akan risikonya. Mereka yang terlalu pesimis butuh diingatkan bahwa sejarah membuktikan manusia selalu beradaptasi.
“Jika saya salah,” kata Gary, “kita semua mati anyway. Jadi lebih baik memilih optimisme praktis.”
Dia tidak memaksa Anda percaya. Dia hanya menawarkan satu fakta:
Bersikap pesimis bukanlah pilihan cerdas. Karena teknologi ini, jika dipakai dengan cara yang tepat, justru bisa memenangkan peluang bisnis.
Dan itu terserah Anda. Seperti biasa.



