Ketika Cikal Bakal Intel Membangun Pabrik di Jakarta
Sejarah industri chip Indonesia dimulai lebih awal dari yang banyak orang kira. Tahun 1957, delapan insinyur muda berjalan keluar dari pintu Shockley Semiconductor Laboratory dan tak pernah kembali. Mereka mendirikan Fairchild Semiconductor. Dua nama dari kelompok itu kelak menjadi legenda, yaitu Robert Noyce dan Gordon Moore, pendiri Intel Corporation pada 1968. Moore sendiri merumuskan Moore’s Law, prinsip yang selama puluhan tahun menjadi kompas laju perkembangan chip di seluruh dunia.
Enam belas tahun berselang, jejak Fairchild sampai ke Jakarta dan menjadi titik awal industri chip Indonesia yang sesungguhnya. Tahun 1973, perusahaan ini membangun fasilitas perakitan semikonduktor di Cibubur. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam webinar Global Chip Shortage and Indonesian Industry Opportunities, menyebut momen ini sebagai penanda Indonesia benar-benar masuk ke rantai produksi chip global, bukan sekadar pasar konsumen elektronik seperti yang banyak dikira orang hari ini.
Angkanya berbicara sendiri. Di puncak operasinya, pabrik semikonduktor Fairchild Jakarta mempekerjakan lebih dari 6.000 orang, mayoritas perempuan, menurut catatan Majalah Tempo edisi 1986. Seluruh hasil produksinya dikapalkan ke Amerika Serikat, memenuhi kebutuhan raksasa teknologi seperti IBM dan Univac.
Skala Investasi Semikonduktor Asing di Indonesia Era 1970-1980an
Fairchild bukan pemain tunggal dalam ekosistem industri chip Indonesia era itu. National Semiconductor dan Monsanto turut mendirikan fasilitas perakitan, pengujian, dan pengemasan integrated circuit serta Light Emitting Diode di Jakarta dan Bandung. Di puncaknya, era 1980-an, Indonesia sanggup mengekspor chip semikonduktor ke berbagai negara, kapasitas produksi yang jarang disebut dalam narasi ekonomi Indonesia hari ini.
Fakta yang nyaris terlupakan hari ini.
Industri turunan pun ikut tumbuh seiring perkembangan manufaktur elektronik nasional. Pabrik komponen elektronik analog dan digital bermunculan, disusul industri televisi dan radio nasional yang solid lewat nama-nama seperti National Gobel, Polytron, dan Sharp Indonesia.
Posisi yang dibangun sejak awal 1970-an ini runtuh hanya dalam satu dekade, dan penyebabnya bukan kegagalan pasar, melainkan satu keputusan kebijakan.
Kebijakan yang Mengubah Arah Industri Chip Indonesia
Keruntuhan industri chip Indonesia bermula dari sebuah kebijakan pada medio 1980-an. Di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, prioritas ekonomi kala itu terpusat pada penciptaan lapangan kerja massal. Industri padat karya menjadi anak emas, diterapkan tanpa pandang bulu terhadap jenis industrinya.
Menteri Tenaga Kerja Sudomo mengeluarkan larangan penggunaan robot atau otomasi di industri semikonduktor. Larangan ini berbenturan langsung dengan arah industri chip dunia yang menuntut presisi tinggi dan kontinuitas produksi berskala nanometer, sesuatu yang menurut pelaku industri saat itu hanya bisa dicapai lewat robot dan otomatisasi.
Satu kebijakan yang lahir dari niat melindungi buruh justru bertabrakan langsung dengan arah teknologi semikonduktor yang bergerak ke seluruh dunia.
Dampaknya datang bertahap, lalu menghantam telak. Pada Maret 1985, muncul rencana PHK terhadap 150 buruh PT Fairchild Semiconductor di Jakarta. Setahun kemudian, pada Juli 1986, pabrik itu resmi tutup, menyisakan 620 pekerja yang kehilangan pekerjaan.
Suara dari Dalam Peristiwa
Sudomo sendiri, dalam laporan Majalah Tempo edisi April 1985, menyatakan ketidaksetujuannya terhadap rencana PHK tersebut karena pemicunya adalah masuknya robot ke lini produksi. “Yang diinginkan di Indonesia adalah teknologi yang bisa menciptakan lapangan kerja, bukan malah menutup,” katanya kala itu.
Setahun berselang, ketika penutupan pabrik akhirnya tak terelakkan, Presiden Direktur Fairchild, Kent A. Goheen, menyampaikan sikap perusahaan tanpa banyak pilihan tersisa. “Mau tak mau tindakan itu harus kami lakukan,” ujarnya kepada Tempo, merujuk pada banjir penawaran semikonduktor global yang tak lagi bisa dipikul pabrik yang seluruh produksinya dikapalkan ke Amerika itu.
Fairchild lantas merelokasi operasinya ke Malaysia, mengikuti jejak sejumlah perusahaan semikonduktor lain yang lebih dulu membangun basis produksi di Penang sejak awal 1970-an. Indonesia kehilangan posisinya dalam rantai pasok chip global bukan karena kalah bersaing, melainkan karena kebijakannya sendiri.
Warisan Talenta Industri Chip Indonesia: Kisah Sehat Sutardja dan Marvell Technology
Di tengah kisah kehilangan basis produksi ini, satu benang lain dari sejarah industri chip Indonesia terus terulur dari Jakarta menuju Silicon Valley. Sehat Sutardja lahir dan besar di ibu kota, membangun generator Van de Graaf dari suku cadang toko onderdil milik orang tuanya, sebelum menempuh pendidikan teknik elektro di Iowa State University, dilanjutkan dengan gelar master dan doktoral di University of California, Berkeley.
Pada 1995, Sehat, bersama istrinya, Weili Dai, dan adiknya, Pantas Sutardja, mendirikan Marvell Technology di sekitar meja dapur rumah mereka. Produk pertama mereka, read channel khusus untuk hard drive yang diproduksi sepenuhnya dalam bentuk silikon, sempat dianggap mustahil berhasil oleh banyak pihak di industri semikonduktor.
Tiga dekade kemudian, Marvell menjelma menjadi salah satu perancang chip data center paling dicari di dunia. Pada 1 Juni 2026, di panggung Computex Taipei, CEO Nvidia, Jensen Huang, menyebut Marvell sebagai calon perusahaan senilai satu triliun dolar berikutnya. “When you take a computing problem, and you disaggregate it into a lot of parts, and you distribute it across the entire data center, what’s necessary is connectivity. That’s the reason why Marvell is so essential,” ujar Huang, menurut laporan CNBC.
Pasar langsung merespons. Saham Marvell melonjak 32,52 persen dalam sehari, kenaikan satu hari terbesar sepanjang sejarah perusahaan tersebut, menurut data yang sama. Anak Jakarta yang dahulu merakit generator dari onderdil bekas kini namanya disebut CEO perusahaan paling bernilai di dunia sebagai kandidat perusahaan triliun dolar berikutnya.

Masa Depan Industri Chip Indonesia: Antara Kehilangan Posisi dan Peluang Baru
Sejak kehilangan basis produksinya pada 1986, Indonesia berbalik arah menjadi negara pengimpor komponen chip semikonduktor, tertinggal jauh dari Malaysia, Vietnam, dan Thailand yang terus menggaet investor di sektor yang sama.
Negara yang pernah mengekspor chip ke berbagai penjuru dunia kini bergantung sepenuhnya pada impor, sebuah pembalikan posisi yang jarang dibahas terbuka dalam wacana industrialisasi Indonesia.
Kemunduran industri chip Indonesia ini tidak berdiri sendiri. Industri semikonduktor dunia berubah drastis dari model terintegrasi hulu ke hilir menjadi model yang terpecah-pecah, memberi investor keleluasaan memilih negara yang dianggap lebih menguntungkan. Malaysia, Cina, Vietnam, dan Thailand menawarkan insentif pajak besar-besaran sejak era 1990-an, sedangkan Indonesia tidak mengimbangi langkah itu.
Pukulan terbesar datang pada 1998. Krisis moneter menghantam industri manufaktur, menyebabkan banyak pabrik bangkrut, investasi teknologi mandek, dan industri elektronik lokal ambruk bersamaan.
Yang menentukan bukan kejatuhannya, melainkan momentum yang terbuka kembali hari ini. Industri AI global menciptakan lonjakan permintaan konektivitas data center, persis seperti yang dialami Marvell. Ledakan permintaan ini membuka ruang bagi Indonesia untuk merancang keterlibatan baru di rantai pasok chip dunia secara sengaja, bukan menunggu keterlibatan itu terjadi begitu saja seperti pada dekade 1970-an.
Dari pabrik yang pernah berdiri di Cibubur hingga talenta yang lahir di Jakarta, sejarah industri chip Indonesia menunjukkan bahwa negara ini tidak pernah benar-benar keluar dari jalur industri chip dunia. Pertanyaannya bukan lagi soal kapan Indonesia mulai terlibat, tetapi babak berikutnya akan ditulis seperti apa, dan siapa yang berani menuliskannya.
Referensi
- Memasuki Zaman PHK?
- Fairchild Usai
- Ditinggal Perusahaan AS, RI Kini Jadi Importir Komponen Chip
- Kronologi Indonesia Kehilangan Investor Semikonduktor Gegara Kebijakan ‘Nyeleneh’
- Remembering Sehat Sutardja, Marvell Co-founder
- Jensen Huang called a California chipmaker the ‘next trillion-dollar company’, and its shares spiked 20%
- Marvell stock soars 32% as Nvidia’s Huang says it could be the next trillion-dollar company
- Intel’s Founding



