Mengenal ‘Tasks’ DoorDash: Lebih dari Sekadar Pengiriman Makanan
DoorDash, yang telah mapan sebagai raksasa pengiriman makanan, kini melebarkan sayapnya ke ranah yang lebih luas: ‘Tasks’. Fitur ini menjanjikan aneka ragam pekerjaan non-pengiriman, mulai dari entri data hingga tugas kompleks seperti identifikasi gambar dan pelatihan algoritma kecerdasan buatan (AI). ‘Tasks’ adalah manifestasi strategi perusahaan teknologi untuk mengerahkan tenaga kerja gig dalam menyelesaikan tugas-tugas yang kian terotomatisasi, sering kali dengan imbalan yang jauh dari kata layak. Fenomena gig economy ini memunculkan peluang sekaligus tantangan bagi para pekerja gig AI.
Platform kerja gig seperti ‘Tasks’ bukanlah fenomena baru. Sejumlah platform serupa telah hadir, menawarkan pekerjaan lepas dengan janji fleksibilitas waktu dan lokasi. Namun, ekspansi ‘Tasks’ oleh DoorDash—perusahaan dengan reputasi dan jangkauan global—mengindikasikan potensi pergeseran fundamental di pasar kerja, termasuk di Indonesia. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah perubahan akan terjadi, melainkan bagaimana kita akan mengantisipasi dampaknya bagi para pekerja gig AI.
Fokus utama ‘Tasks’ terletak pada potensinya dalam melatih algoritma AI. Para pekerja gig, yang dibayar dengan tarif minim, ditugaskan menyelesaikan pekerjaan yang hasilnya akan digunakan untuk meningkatkan kapabilitas AI. Model bisnis ini memicu perdebatan etis yang mendalam: di era AI, seberapa bernilainya tenaga kerja manusia? Dan bagaimana keuntungan dari kemajuan teknologi ini didistribusikan secara adil?
Model Bisnis ‘Tasks’ dan Potensi Disrupsi Pasar Kerja Lokal
Model bisnis ‘Tasks’ bertumpu pada eksploitasi pekerja gig yang bersedia menerima upah rendah untuk menyelesaikan tugas-tugas repetitif. Pekerjaan yang tampak remeh ini memiliki nilai strategis dalam melatih algoritma AI. Dengan memanfaatkan tenaga manusia, perusahaan seperti DoorDash dapat mengembangkan AI secara signifikan lebih murah dibandingkan metode pelatihan konvensional.
Kedatangan ‘Tasks’ di pasar kerja Indonesia berpotensi menciptakan disrupsi yang luas. Fleksibilitas yang ditawarkan mungkin menarik bagi sebagian pekerja gig AI, terutama yang mencari penghasilan tambahan atau pekerjaan paruh waktu. Namun, ketiadaan perlindungan pekerja dan upah yang tidak manusiawi adalah isu krusial. Pekerja ‘Tasks’ kerap kali tidak memiliki akses ke tunjangan kesehatan, cuti berbayar, atau jaminan sosial—hak-hak dasar yang seharusnya mereka dapatkan.
Perbandingan upah dan kondisi kerja antara ‘Tasks’ dan pekerjaan serupa di sektor formal memperlihatkan jurang yang menganga. Pekerja ‘Tasks’ kerap dibayar per tugas, dengan tarif yang fluktuatif. Ironisnya, upah ini sering kali jauh di bawah upah minimum regional (UMR) atau upah pekerja di sektor formal dengan keterampilan yang setara. Fakta ini memicu kekhawatiran serius tentang potensi eksploitasi yang sistematis. Regulasi yang ketat untuk melindungi hak-hak pekerja gig bukan lagi pilihan, melainkan imperatif.
Bagaimana sebenarnya ‘Tasks’ ini bekerja?
Pengalaman Langsung: Menjalankan ‘Tasks’ dan Menemukan Celah Eksploitasi dalam Pekerjaan Gig AI

Untuk mengungkap seluk-beluk operasional ‘Tasks’ DoorDash, kita perlu menelisik pengalaman para penggunanya. Artikel dari Wired, I Tried DoorDash’s Tasks App and Saw the Bleak Future of AI Gig Work | WIRED, mendokumentasikan bagaimana pekerja gig dieksploitasi untuk merekam video diri sendiri melakukan tugas-tugas sehari-hari—mencuci pakaian, memasak, berjalan-jalan di taman. Video-video ini kemudian dimanfaatkan untuk melatih AI dan robot humanoid.
Jenis tugas yang mendominasi ‘Tasks’ meliputi identifikasi gambar, transkripsi audio, dan entri data. Upah yang ditawarkan bervariasi, namun ironisnya, selalu rendah. Pekerja gig AI pada platform ‘Tasks’ juga menghadapi serangkaian kesulitan dan tantangan yang sistematis. Kurangnya transparansi dalam sistem pembayaran, minimnya dukungan teknis, dan ketidakpastian soal ketersediaan tugas adalah sebagian dari masalah yang menghantui mereka.
Kurangnya transparansi adalah masalah laten. Pekerja sering kali tidak memiliki informasi yang memadai tentang bagaimana upah mereka dihitung atau bagaimana hasil kerja mereka dievaluasi. Kondisi ini menciptakan ketidakpercayaan dan perasaan dieksploitasi. Minimnya dukungan teknis juga mempersulit pekerja untuk menyelesaikan tugas atau mengatasi kendala teknis yang mungkin timbul.
STUDI KASUS: Tugas Identifikasi Gambar dan Potensi Bias Algoritma dalam Pelatihan AI oleh Pekerja Gig
Salah satu tugas yang paling umum di ‘Tasks’ adalah identifikasi gambar. Pekerja gig dituntut untuk mengidentifikasi objek, orang, atau adegan dalam gambar. Data ini kemudian dipakai untuk melatih algoritma AI agar mengenali pola dan membuat prediksi. Namun, proses ini berpotensi melahirkan bias jika data yang digunakan tidak representatif dari populasi yang beragam.
Sebagai contoh, jika mayoritas gambar yang dipakai melatih AI berasal dari kelompok etnis atau budaya tertentu, algoritma itu rentan bias terhadap kelompok tersebut. Hal ini dapat memicu diskriminasi dalam berbagai aplikasi, seperti pengenalan wajah, diagnosis medis, dan penilaian risiko kredit. Pekerja gig AI, tanpa disadari, dapat berkontribusi pada pengembangan algoritma yang berpotensi diskriminatif.
Dampak bias algoritma bisa sangat merugikan. Algoritma pengenalan wajah yang bias dapat salah mengidentifikasi orang dari kelompok etnis tertentu, yang berujung pada penangkapan yang tidak adil atau diskriminasi sistemik. Dalam bidang medis, algoritma yang bias dapat memberikan diagnosis yang tidak akurat atau merekomendasikan perawatan yang tidak sesuai untuk pasien dari kelompok tertentu.
Lalu, bagaimana hukum melindungi para pekerja ini?
Regulasi dan Perlindungan Pekerja Gig di Era AI: Celah Hukum yang Mengkhawatirkan
Regulasi terkait pekerja gig di Indonesia belum mampu melindungi hak-hak pekerja di platform seperti ‘Tasks’. Celah hukum yang ada memungkinkan perusahaan untuk menghindari tanggung jawab sebagai pemberi kerja dan memperlakukan pekerja gig sebagai kontraktor independen. Status ini merampas akses pekerja ke tunjangan kesehatan, cuti berbayar, dan jaminan sosial.
Perbandingan regulasi di negara lain menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih progresif dalam mengatur ekonomi gig dan AI telah diimplementasikan. Beberapa negara telah memberlakukan undang-undang yang mewajibkan platform untuk memberikan perlindungan yang lebih komprehensif kepada pekerja gig, termasuk upah minimum, asuransi, dan hak untuk berserikat. Indonesia dapat belajar dari pengalaman negara-negara ini untuk merumuskan regulasi yang lebih efektif.
Regulasi yang lebih ketat untuk melindungi pekerja gig AI dari eksploitasi bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan mendesak. Regulasi ini harus mencakup ketentuan tentang upah minimum yang layak, kondisi kerja yang aman, dan hak untuk berserikat. Selain itu, regulasi juga harus memastikan bahwa algoritma AI yang dipakai platform tidak diskriminatif dan transparan.
TESTIMONIAL: Suara Pekerja ‘Tasks’ yang Terabaikan dalam Ekosistem Gig AI
Sayangnya, tidak ada kutipan langsung dari pekerja gig AI di ‘Tasks’ yang tersedia dalam sumber riset yang diberikan. Namun, kita tidak boleh melupakan bahwa suara para pekerja ini sering kali diabaikan dalam diskursus tentang ekonomi gig dan AI. Pengalaman mereka—termasuk soal upah yang tidak adil, kondisi kerja yang buruk, dan kurangnya perlindungan—harus menjadi fokus utama dalam upaya merumuskan regulasi yang lebih baik.
Sebagai gantinya, kita dapat menelaah pandangan CEO NVIDIA, Jensen Huang, tentang pentingnya AI. Meskipun tidak secara langsung membahas pekerja gig, pandangannya tentang AI memberikan konteks tentang perkembangan teknologi ini. Menurutnya, AI akan terus berkembang dan menjadi bagian integral dari berbagai industri. Pandangan ini menggarisbawahi perlunya adaptasi dan regulasi yang tepat untuk memastikan bahwa perkembangan AI memberikan manfaat bagi semua pihak, termasuk pekerja.
Kemitraan Semu dalam Ekonomi Gig di Indonesia: Analisis … juga menyoroti bagaimana status kemitraan dalam ekonomi gig sering kali ilusi dan tidak memberikan perlindungan yang memadai bagi pekerja. Temuan ini semakin memperkuat argumen tentang perlunya regulasi yang lebih baik untuk melindungi hak-hak pekerja gig.
Jadi, apa yang menanti kita di masa depan? Ancaman atau justru peluang?
Masa Depan Pekerja Gig AI: Ancaman atau Peluang bagi Indonesia?
Dampak jangka panjang ‘Tasks’ dan platform serupa terhadap pasar kerja Indonesia masih menjadi teka-teki. Namun, kita harus mengakui adanya potensi baik ancaman maupun peluang. Di satu sisi, platform ini dapat menciptakan lapangan kerja baru dan memberikan fleksibilitas bagi pekerja. Di sisi lain, platform ini juga berpotensi menyebabkan eksploitasi, ketimpangan ekonomi, dan hilangnya pekerjaan akibat otomatisasi. Penting untuk mempertimbangkan implikasi etis dan sosial dari pekerjaan gig AI.
Untuk menghadapi era AI, pekerja gig di Indonesia harus beradaptasi dan meningkatkan keterampilan mereka. Pemerintah, perusahaan, dan lembaga pendidikan harus berkolaborasi untuk menyediakan pelatihan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja di era AI. Ini termasuk pengembangan keterampilan teknis (seperti pemrograman dan analisis data) serta keterampilan non-teknis (seperti pemecahan masalah, kreativitas, dan komunikasi).
PELUANG POSITIF: Mengembangkan Ekosistem AI yang Inklusif dan Berkelanjutan untuk Pekerja Gig
Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan ekosistem AI yang inklusif dan berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi semua pihak, termasuk pekerja gig. Pemerintah dapat memainkan peran sentral dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi inovasi AI sambil melindungi hak-hak pekerja. Perusahaan dapat berinvestasi dalam pelatihan dan pengembangan keterampilan pekerja untuk membantu mereka beradaptasi dengan era AI. Lembaga pendidikan dapat menyediakan program pendidikan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja di era AI.
The AI-Fueled Future of Work Needs Humans More Than Ever menegaskan bahwa masa depan pekerjaan yang didorong oleh AI masih membutuhkan manusia. Keterampilan manusia—pemecahan masalah, pemikiran strategis, dan manajemen waktu—akan semakin krusial di era AI. Oleh karena itu, investasi dalam pengembangan keterampilan ini adalah suatu keharusan.
Bagaimana sektor pembangunan optimalkan ChatGPT untuk perubahan menunjukkan bagaimana AI dapat dioptimalkan untuk perubahan sosial. Ini memberikan harapan bahwa AI dapat dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai masalah sosial dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
DAMPAK NEGATIF: Potensi Hilangnya Pekerjaan dan Ketimpangan Ekonomi bagi Pekerja Gig AI
Salah satu kekhawatiran utama tentang AI adalah potensi hilangnya pekerjaan akibat otomatisasi. AI memiliki kapasitas untuk menggantikan manusia dalam berbagai tugas, terutama tugas yang repetitif dan rutin. Hal ini dapat menyebabkan pengangguran dan ketimpangan ekonomi yang lebih besar jika tidak ada upaya yang terencana untuk melindungi pekerja dan memberikan kesempatan yang setara. Hal ini sangat relevan bagi pekerja gig AI yang pekerjaannya rentan terotomatisasi.
Get Ready for the Great AI Disappointment memberikan perspektif yang lebih hati-hati tentang potensi AI. Artikel ini memperingatkan tentang ekspektasi yang berlebihan terhadap AI dan potensi kekecewaan jika AI tidak memenuhi ekspektasi tersebut. Ini mengingatkan kita untuk bersikap realistis tentang kemampuan AI dan untuk tidak mengabaikan potensi risiko dan tantangan.
2 tantangan menggunakan AI untuk pendidikan inklusif di Indonesia menyoroti tantangan dalam menggunakan AI untuk pendidikan inklusif di Indonesia. Tantangan ini termasuk ketimpangan infrastruktur digital dan bias data pelatihan. Ini mengingatkan kita bahwa AI tidak selalu inklusif dan bahwa upaya yang terencana diperlukan untuk memastikan bahwa AI memberikan manfaat bagi semua orang, termasuk mereka yang kurang beruntung.
Referensi
- I Tried DoorDash’s Tasks App and Saw the Bleak Future of AI Gig Work | WIRED
- (PDF) Kemitraan Semu dalam Ekonomi Gig di Indonesia: Analisis …
- The AI-Fueled Future of Work Needs Humans More Than Ever
- Riset Microsoft: 92% Pekerja Indonesia Manfaatkan AI, Lebih Banyak dari Global
- Get Ready for the Great AI Disappointment
- 2 tantangan menggunakan AI untuk pendidikan inklusif di Indonesia
- 10% Of Enterprise Functions Use AI Agents, McKinsey Finds
- Bagaimana sektor pembangunan optimalkan ChatGPT untuk perubahan
- What happened at Nvidia GTC: NemoClaw, Robot Olaf, and a $1 trillion bet
- AI-Generated Fake News Is Coming to an Election Near You
- Publisher pulls horror novel ‘Shy Girl’ over AI concerns
- All We Need Is Memory, Dealing With The AI RAMpocalypse
- Tailwind For Air Taxis And Cargo Drones Via Federal Program




