Paradoks yang Sedang Terjadi: Jurusan IT Menyusut, Tapi Semua Orang Ingin Paham AI
Faith Maeba tidak pernah membayangkan dirinya duduk di kelas AI. Mahasiswa psikologi di Virginia Commonwealth University itu awalnya enggan, sampai ia menyadari bahwa program pascasarjana yang ia incar sudah membahas machine learning dalam konteks perilaku manusia di tempat kerja. Maeba, 21 tahun, kini mengejar minor di bidang AI tanpa pernah menulis satu baris kode pun.
Kisah Maeba bukan anomali. Ini gejala dari pergeseran struktural yang sedang mengubah peta kompetensi tenaga kerja global.
Berdasarkan data National Student Clearinghouse Research Center, pendaftaran program Computer and Information Sciences di institusi empat tahun di Amerika Serikat turun 8,4% pada musim semi 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini berjalan seiring dengan merosotnya lowongan untuk pengembang perangkat lunak level pemula, pekerjaan yang kini dikerjakan oleh agen AI.
Yang mengejutkan bukan angkanya, tapi arah pergerakannya. Di saat jurusan komputer menyusut, mahasiswa dari fakultas lain justru berbondong-bondong mendaftar kelas AI.
Mereka tidak menolak teknologi. Mereka menolak menjadikan coding sebagai satu-satunya gerbang masuk.
Peter Stone, Ketua Departemen Computer Science di University of Texas at Austin, merangkum pergeseran ini dengan kalimat yang sulit dibantah. “In the same way that everybody needs some degree of math, reading and writing, I think everybody needs a degree of AI literacy,” ujarnya.
Implikasinya bagi ruang rapat Anda di Jakarta atau Surabaya sudah di depan mata. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, kandidat dari latar belakang psikologi, hukum, desain, atau musik akan memasuki pasar kerja dengan bekal pemahaman AI. Ekspektasi rekrutmen di level manajerial akan berubah, dan perusahaan yang tidak menyesuaikan diri akan kehilangan akses ke talenta terbaik.

Kampus-Kampus Membongkar Tembok: Belajar AI Tanpa Coding Jadi Kurikulum, Bukan Ekstrakurikuler
Colby College di Maine, Amerika Serikat, sedang menjalankan eksperimen yang dampaknya melampaui tembok kampus. Melalui Davis Institute for Artificial Intelligence, kampus kecil ini menggelar program Interdisciplinary Summer Bridges: 30 mahasiswa dari 23 jurusan berbeda, tanpa syarat pengalaman programming, membangun proyek AI nyata selama delapan minggu.
Hasilnya bukan mainan akademik. Ada tool verifikasi sitasi hukum untuk mahasiswa hukum, dan ada penghapus bias dalam sistem rekrutmen otomatis. Semua dikerjakan tanpa satu pun peserta yang pernah menulis kode sebelumnya.
David Watts, Direktur Davis Institute yang sebelumnya menghabiskan dua dekade di IBM, menangkap inti perubahan ini dengan presisi. “The nature of how you apply that knowledge is changing,” kata Watts.
University of Florida bergerak lebih agresif dan lebih cepat dari hampir semua institusi sejenis. Kampus ini kini menawarkan lebih dari 200 mata kuliah AI lintas 16 fakultas, dengan 14.000 mahasiswa terdaftar setiap tahun. Berdasarkan data universitas tersebut, 71% lulusan periode wisuda musim semi 2026 telah mengambil minimal satu kursus AI selama masa studi.
Ohio State University memberlakukan AI fluency requirement untuk seluruh angkatan 2029. Purdue menjadikan AI sebagai syarat kelulusan. Trennya tidak bisa diabaikan: AI bukan lagi elektif, melainkan wajib.
Di level yang lebih membumi, Johnson County Community College di Kansas membuka kelas vibe-coding non-kredit untuk kalangan non-teknis. Grant Carlson, Program Coordinator di institusi tersebut, menyatakan: “What AI does is shrink that distance between a complete novice and an expert.”
Fakta ini menegaskan satu hal: belajar AI tanpa coding kini bisa diakses bahkan di luar universitas elite. Dan jika community college di Kansas sudah melakukannya, pertanyaan bagi korporasi Indonesia bukan lagi “apakah relevan”, melainkan “mengapa belum dimulai”.
Di Luar Kampus, Kebijakan Ketenagakerjaan dan Pelatihan Guru Ikut Bergeser
Pergeseran ini tidak berhenti di gerbang kampus. Ia sudah masuk ke ruang kebijakan negara.
Di Inggris, Perdana Menteri Andy Burnham pada Juli 2026 mengumumkan perombakan pelatihan vokasi pemuda dengan alokasi £287 juta untuk lebih dari 22.000 tempat kuliah tambahan dan bursary magang hingga £4.500 per peserta. Kebijakan ini terus berkembang menuju rollout nasional pada 2028, dengan AI disebut secara eksplisit sebagai pendorong perubahan keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja.
Pat McFadden, Work and Pensions Secretary Inggris, menangkap urgensi itu tanpa basa-basi. “Perhaps the assumptions about what was a safe and secure job in the past no longer apply today,” ucapnya kepada Sky News.
Di sektor pendidikan dasar dan menengah Amerika Serikat, American Federation of Teachers yang beranggotakan 1,8 juta orang meluncurkan National Academy for AI Instruction. Pendanaannya $23 juta, berasal dari Microsoft ($12,5 juta), OpenAI ($10 juta), dan Anthropic ($500 ribu). Targetnya: melatih 400.000 pendidik dalam lima tahun agar mereka memahami cara belajar AI tanpa coding sekaligus mengenali risikonya.
Randi Weingarten, Presiden AFT, menyebut pelatihan ini sebagai moral imperative. Namun tidak semua pihak sepakat tanpa catatan.
Audrey Watters, penulis buku Teaching Machines, mengingatkan bahwa kemitraan dengan perusahaan teknologi besar berpotensi mengarahkan kurikulum ke produk tertentu. Justin Reich, profesor di MIT, menegaskan bahwa belum ada bukti adopsi tools AI menghasilkan outcome belajar yang lebih baik. Peringatan ini bukan teori kosong. Ini alarm bagi perusahaan yang sedang merancang program pelatihan AI internal tanpa kerangka evaluasi yang jelas.
Catatan Risiko, Ketika AI Mengerjakan “Pemahaman” untuk Kita
Murtaza Ali, kandidat doktoral Computer Science Education di University of Washington, menyuarakan kekhawatiran yang seharusnya membuat setiap CHRO berhenti sejenak dan mengevaluasi program upskilling mereka. “When you ask the AI to do it for you, on the surface it might just seem it is writing the code. But under the hood, it’s actually also doing the understanding of the task for you,” tegasnya.
Bahayanya konkret dan terukur. Karyawan yang tampak produktif dengan bantuan AI bisa jadi tidak memahami fondasi logika di balik output yang mereka hasilkan.
Program upskilling internal yang hanya mengajarkan cara memakai tool tanpa membangun pemahaman konseptual akan menciptakan ketergantungan. Dan ketergantungan itu, pada gilirannya, membuka celah kesalahan keputusan di level operasional yang biayanya jauh lebih besar dari investasi pelatihan itu sendiri.

Membaca Sinyal Ini untuk Ruang Rapat Anda
Lalu, apa yang seharusnya dilakukan C-suite dengan semua bukti ini?
Jawaban pertamanya ada di sisi rekrutmen. Belajar AI tanpa coding membuka akses talenta yang jauh lebih luas bagi perusahaan. Anda tidak lagi harus bersaing memperebutkan lulusan computer science yang jumlahnya menyusut. Profesional dari latar belakang bisnis, hukum, kesehatan, atau kreatif kini masuk pasar kerja dengan literasi AI dasar yang sudah tertanam sejak bangku kuliah.
Dalam dua hingga empat tahun, ekspektasi kompetensi AI akan melekat di hampir semua job description, bukan hanya di divisi teknologi. Program learning and development internal perlu didesain ulang agar mencerminkan pendekatan interdisipliner seperti model Colby College atau University of Florida, bukan sekadar mengirim tim IT ke pelatihan teknis.
Seperti kata David Watts, keahlian coding tidak akan hilang. Tetapi cara pengetahuan itu diterapkan sedang berubah secara fundamental, dan perusahaan yang tidak menyesuaikan arsitektur kompetensinya akan tertinggal dalam perebutan talenta.
Pertanyaannya bagi pemimpin bisnis di Indonesia bukan lagi apakah tim perlu belajar AI tanpa coding. Pertanyaannya: seberapa cepat organisasi Anda bisa membangun budaya di mana setiap divisi merasa memiliki literasi itu sebagai milik mereka sendiri, sebelum kompetitor melakukannya lebih dulu?
Referensi
- At colleges, the AI boom means everyone wants to dabble in computer science
- UK’s Burnham outlines youth training overhaul as AI reshapes jobs market
- Computer science enrollment is plunging, but AI is taking over the rest of the college campus
- Teachers need help with AI. A union is offering training – with $23m in funding from big tech


