AI: Medan Persaingan Baru Kekuatan Global
Abad ke-21 telah mengukuhkan kecerdasan buatan (AI) sebagai medan persaingan baru yang krusial. Dalam konteks geopolitik riset AI, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Uni Eropa terlibat dalam perlombaan sengit untuk mendominasi teknologi transformatif ini. Penguasaan AI bukan lagi sekadar indikator keunggulan ekonomi, melainkan fondasi kekuatan militer dan pengaruh geopolitik. Persaingan yang membara ini secara langsung memengaruhi arah riset dan pengembangan AI global, menciptakan fragmentasi, pembatasan akses, dan bahkan potensi diskriminasi yang sistematis.
Implikasinya sangat luas, terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia. Bagaimana kita akan menavigasi lanskap riset AI yang terpolarisasi ini, dan memastikan peneliti serta inovator Indonesia memiliki akses yang adil ke sumber daya dan kesempatan untuk berkontribusi pada pengembangan AI global? Pertanyaan ini mendesak untuk dijawab, mengingat pentingnya riset AI dalam percaturan global.
Investasi Raksasa: Siapa Unggul dalam Balapan AI?
Dominasi AI adalah arena yang menuntut investasi raksasa, di mana Amerika Serikat dan Tiongkok memimpin dengan pendanaan signifikan dari sektor pemerintah dan swasta. Negara-negara Eropa, meskipun tertinggal dalam riset AI, berupaya keras meningkatkan investasi mereka. Fokus investasi bervariasi, mulai dari sektor pertahanan hingga kesehatan, manufaktur, dan lainnya.
Claude, salah satu model AI pesaing utama ChatGPT, mengalami lonjakan popularitas yang signifikan di kalangan pelanggan berbayar. Laporan berjudul “Anthropic’s Claude popularity with paying consumers is skyrocketing,” mengungkapkan data dari Indagari, perusahaan analisis transaksi konsumen, yang menunjukkan peningkatan penggunaan Claude oleh pelanggan berbayar antara Januari dan Februari. Sebagian besar pelanggan baru berlangganan pada tingkat “Pro” dengan biaya $20 per bulan, dan pertumbuhan pelanggan terus berlanjut hingga awal Maret. Juru bicara Anthropic mengonfirmasi bahwa langganan berbayar Claude telah meningkat lebih dari dua kali lipat tahun ini.
Perang di berbagai belahan dunia memperparah kerentanan rantai pasokan komponen penting untuk pengembangan AI.
Laporan “An Invisible Bottleneck: A Helium Shortage Threatens the Chip Industry” mengungkap bahwa perang di Iran telah menyebabkan gangguan pasokan helium, komponen krusial dalam pembuatan cip AI. Akibatnya, sepertiga pasokan global terhenti akibat perang, dan perusahaan gas berjuang meyakinkan para pembuat cip AI bahwa tidak akan terjadi gangguan. Ini adalah bukti nyata betapa industri AI sangat rentan terhadap faktor-faktor geopolitik yang tak terduga.
Perusahaan-perusahaan AI terkemuka memainkan peran sentral dalam persaingan global ini. Mereka adalah penerima investasi besar, pusat inovasi, dan mitra strategis pemerintah dalam pengembangan teknologi AI. Persaingan antarperusahaan memacu inovasi dan pengembangan model AI yang canggih. Namun, persaingan ini juga berpotensi memicu konsentrasi kekuatan dan monopoli di pasar AI, sehingga mengancam persaingan yang sehat.
Nasionalisme Teknologi: Ketika Riset AI Dibatasi

Nasionalisme teknologi telah menjadi konsekuensi tak terhindarkan dari persaingan geopolitik dalam riset AI. Negara-negara semakin gencar menerapkan kebijakan pembatasan ekspor teknologi dan transfer pengetahuan di bidang AI, dengan dalih keamanan nasional. Kebijakan ini membatasi kolaborasi riset internasional dan akses peneliti dari negara berkembang ke sumber daya AI. Pembatasan ini menghalangi peneliti dan mahasiswa Indonesia yang ingin berkontribusi pada pengembangan AI global.
Pembatasan ini menghambat kemajuan riset AI di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya. Tanpa akses ke model AI besar dan dataset penting, peneliti akan kesulitan melakukan riset mutakhir dan mengembangkan aplikasi AI yang relevan dengan kebutuhan lokal. Akibatnya, kesenjangan teknologi antara negara maju dan berkembang akan semakin lebar.
Studi Kasus: Pembatasan Akses ke Model AI dan Dataset
Akses ke model AI besar (large language models) dan dataset penting semakin sulit bagi peneliti dari negara-negara tertentu. Kebijakan ini didasarkan pada pertimbangan politis atau keamanan nasional. Peneliti dari negara-negara yang dianggap tidak ramah atau berpotensi menjadi pesaing strategis mengalami kesulitan mengakses sumber daya AI yang mereka butuhkan.
Sejumlah peneliti melaporkan kesulitan dalam mengakses model AI tertentu yang dikembangkan di AS atau Tiongkok, harus melalui proses perizinan yang rumit, atau bahkan ditolak aksesnya sama sekali. Hal ini menghambat kemampuan mereka untuk melakukan riset dan mengembangkan aplikasi AI yang relevan dengan kebutuhan lokal.
Dampaknya sangat signifikan. Peneliti kehilangan kesempatan untuk belajar dari model AI terbaru dan mengembangkan solusi inovatif untuk masalah-masalah lokal. Mereka juga kesulitan berkolaborasi dengan peneliti dari negara lain dan berkontribusi pada pengembangan AI global. Kerugian ini tidak hanya dirasakan oleh komunitas riset, tetapi juga oleh masyarakat secara keseluruhan, yang kehilangan potensi manfaat dari aplikasi AI yang inovatif.
Sebelum ada pembatasan, kolaborasi riset internasional berjalan lebih lancar. Peneliti dari berbagai negara dapat berbagi pengetahuan dan sumber daya dengan lebih mudah. Namun, dengan adanya pembatasan, kolaborasi ini menjadi lebih sulit dan terbatas, menghambat kemajuan riset AI secara global dan memperlebar kesenjangan teknologi antara negara maju dan berkembang.
Dampak Negatif: Diskriminasi dan Potensi Penyalahgunaan
Nasionalisme dalam riset AI tidak hanya membatasi akses ke sumber daya, tetapi juga menyebabkan diskriminasi terhadap peneliti dari negara-negara tertentu. Peneliti dari negara-negara yang dianggap tidak ramah atau berpotensi menjadi pesaing strategis menghadapi kesulitan dalam mendapatkan visa, menghadiri konferensi, atau menerbitkan hasil riset mereka.
Yang lebih mengkhawatirkan, pengembangan AI yang didorong oleh kepentingan geopolitik meningkatkan risiko penyalahgunaan teknologi ini. AI dapat digunakan untuk kepentingan strategis negara, seperti pengawasan massal, propaganda, dan pengembangan senjata otonom. Penyalahgunaan ini mengancam hak asasi manusia, kebebasan sipil, dan stabilitas global.
Penelitian berjudul “ChatGPT as a therapist? New study reveals serious ethical risks” menyoroti risiko etis dari penggunaan AI untuk terapi. Penelitian itu menunjukkan bahwa chatbot AI sering kali melanggar standar etika yang ditetapkan oleh organisasi seperti American Psychological Association. Chatbot AI dapat salah menangani situasi krisis, memberikan respons yang memperkuat keyakinan berbahaya tentang pengguna atau orang lain, dan menggunakan bahasa yang menciptakan kesan empati tanpa pemahaman yang tulus.
Laporan “Unbreakable? Researchers warn quantum computers have serious security flaws” memperingatkan bahwa komputer kuantum memiliki kelemahan keamanan yang serius. Komputer kuantum dapat memecahkan masalah yang jauh di luar jangkauan mesin saat ini, tetapi kekuatan yang sama juga membuat mereka menjadi target yang menarik bagi serangan siber. Kelemahan dapat ada tidak hanya dalam perangkat lunak, tetapi jauh di dalam perangkat keras fisik itu sendiri, di mana algoritma berharga dan data sensitif dapat terpapar.
Testimonial: Suara Peneliti Indonesia
Eline van der Velden, pencipta aktor AI Tilly Norwood, mengaku menerima ancaman pembunuhan setelah reaksi global terhadap proyek tersebut. Laporan “Creator of AI actor Tilly Norwood says she received death threats over project” menyebutkan bahwa Van der Velden mengembangkan “kembaran digital”-nya untuk memprovokasi pemikiran dan diskusi tentang dampak AI di dunia hiburan. Dalam sebuah wawancara, Van der Velden mengaku terkejut dengan reaksi keras yang diterimanya. “Ancaman pembunuhan dan kebencian… banyak sekali,” katanya.
Artikel “Why can’t TikTok identify AI generated ads when I can?” menyoroti kesulitan dalam mengidentifikasi iklan yang dihasilkan oleh AI di TikTok. Artikel tersebut mencatat bahwa perusahaan yang seharusnya pro-transparansi bahkan tidak jujur satu sama lain, apalagi dengan kita semua. Samsung, seperti banyak perusahaan yang menggunakan AI generatif dalam iklannya, belum menempatkan label AI pada beberapa video yang dibagikan melalui akun TikTok-nya, dan cetakan kecilnya tidak selalu berisi jawabannya. Ini adalah bukti nyata kurangnya transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaan AI oleh perusahaan-perusahaan besar.
Mencari Jalan Tengah: Strategi Indonesia di Era Fragmentasi Riset AI
Indonesia harus merumuskan strategi yang cerdas dan adaptif di tengah lanskap riset AI yang semakin terfragmentasi dan kompetitif. Investasi dalam infrastruktur AI lokal dan pengembangan sumber daya manusia yang kompeten adalah kunci untuk memastikan bahwa Indonesia dapat bersaing di era AI. Tanpa langkah konkret, Indonesia akan tertinggal jauh dalam perlombaan ini.
Indonesia perlu membangun kemitraan strategis dengan negara-negara yang memiliki visi yang sejalan. Kemitraan ini dapat membantu Indonesia mengakses sumber daya AI, berbagi pengetahuan, dan mengembangkan aplikasi AI yang relevan dengan kebutuhan lokal. Pemerintah dan lembaga riset juga perlu berperan aktif dalam menciptakan ekosistem AI yang inklusif dan berkelanjutan.
Peluang Positif: Fokus pada Kekuatan dan Kebutuhan Lokal
Indonesia memiliki keunggulan komparatif di beberapa sektor yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan AI. Sektor pertanian, maritim, dan UMKM menawarkan peluang besar untuk penerapan AI. Dengan fokus pada pengembangan solusi AI yang relevan dengan kebutuhan lokal dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan, Indonesia dapat menciptakan nilai tambah dan meningkatkan daya saingnya.
Pemanfaatan data lokal adalah kunci untuk melatih model AI yang lebih akurat dan relevan dengan konteks Indonesia. Data lokal dapat digunakan untuk mengembangkan model AI yang memahami bahasa, budaya, dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Ini akan memungkinkan pengembangan aplikasi AI yang lebih efektif dan bermanfaat.
Implementasi AI yang sukses di Indonesia dapat menjadi inspirasi dan model untuk replikasi dan peningkatan. Aplikasi AI di bidang pertanian, misalnya, dapat membantu petani meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Aplikasi AI di bidang kesehatan dapat membantu dokter mendiagnosis penyakit dengan lebih cepat dan akurat. Aplikasi AI di bidang pendidikan dapat membantu siswa belajar dengan lebih efektif dan personal.
Dengan fokus pada kekuatan dan kebutuhan lokal, Indonesia dapat menavigasi lanskap geopolitik riset AI yang semakin terfragmentasi dan kompetitif. Indonesia dapat menciptakan ekosistem AI yang inklusif, berkelanjutan, dan berkontribusi pada pembangunan nasional. Pertanyaannya adalah, apakah Indonesia memiliki visi dan kemauan politik untuk mewujudkan potensi ini?
Referensi
- ChatGPT as a therapist? New study reveals serious ethical risks
- Anthropic’s Claude popularity with paying consumers is skyrocketing
- Why can’t TikTok identify AI generated ads when I can?
- An Invisible Bottleneck: A Helium Shortage Threatens the Chip Industry
- Creator of AI actor Tilly Norwood says she received death threats over project
- Unbreakable? Researchers warn quantum computers have serious security flaws
- Scientists discover AI can make humans more creative
- Stanford’s AI spots hidden disease warnings that show up while you sleep



