Pada 9 Desember 2025, di konferensi layanan keuangan Goldman Sachs di New York, terungkap bahwa adopsi kecerdasan buatan (AI) di Wall Street bukan lagi sekadar eksperimen. Bank-bank besar AS mulai melihat AI, terutama generative AI, sebagai alat operasional yang mampu meningkatkan produktivitas di berbagai bidang, mulai dari teknik, operasional, hingga layanan pelanggan. Namun, di balik peningkatan ini, muncul realitas yang lebih keras: dengan produktivitas yang meningkat, beberapa peran dalam industri ini mungkin tidak lagi diperlukan pada tingkat yang sama. Ini menandai awal dari apa yang bisa disebut sebagai ‘dua fase’ perubahan tenaga kerja.
Fase Peningkatan Produktivitas
Bank-bank seperti JPMorgan, Wells Fargo, PNC, Citigroup, dan Goldman Sachs melaporkan kenaikan produktivitas yang signifikan sejak menerapkan AI. Marianne Lake, CEO divisi perbankan konsumen JPMorgan, menyatakan bahwa produktivitas di area yang menggunakan AI telah naik hingga 6%, dari sekitar 3% sebelumnya. Dia bahkan memperkirakan bahwa peran operasional bisa melihat peningkatan produktivitas hingga 40-50% seiring dengan integrasi AI lebih lanjut.
Bank-bank ini tidak hanya berbicara tentang eksperimen luas, tetapi juga tentang keputusan yang sangat terencana. JPMorgan, misalnya, fokus pada akses internal yang aman ke model bahasa besar, perubahan yang ditargetkan pada alur kerja, dan kontrol ketat terhadap penggunaan data. Mereka menggambarkan ‘LLM Suite’ internal mereka sebagai lingkungan yang terkendali di mana staf dapat membuat dan merangkum konten menggunakan model bahasa besar.
Fase Tantangan Tenaga Kerja
Di sisi lain, Wells Fargo, mengungkapkan bahwa mereka ‘melakukan lebih banyak’ tanpa mengurangi staf. Namun, CEO Charlie Scharf menyoroti bahwa perusahaan berencana untuk menemukan area di mana jumlah orang yang diperlukan bisa berkurang seiring dengan peningkatan produktivitas. Dia bahkan menyebutkan bahwa anggaran internal mereka menunjukkan rencana untuk workforce yang lebih kecil pada tahun 2026, bahkan sebelum dampak penuh AI terasa. Hal ini menunjukkan bahwa persiapan untuk penyesuaian tenaga kerja mungkin sudah dimulai, dengan biaya pemutusan hubungan kerja yang lebih tinggi sebagai indikasi.
PNC, di bawah kepemimpinan CEO Bill Demchak, melihat AI sebagai akselerator yang memperkuat tren yang sudah ada. Meskipun bisnis mereka berkembang, jumlah karyawan tetap stabil selama satu dekade terakhir, berkat otomatisasi dan optimasi cabang. Dengan adopsi AI, mereka berharap untuk mendorong tren ini lebih jauh.
Pengawasan dan Regulasi sebagai Kendala

Meskipun AI menjanjikan peningkatan produktivitas, pengawasan dan regulasi menjadi perhatian utama. Bank-bank ini harus mematuhi standar ketat, seperti SR 11-7 dari Federal Reserve dan OCC, yang mengatur manajemen risiko model. Laporan Government Accountability Office (GAO) 2025 menekankan bahwa prinsip manajemen risiko model juga berlaku untuk AI. Dalam praktiknya, bank harus memantau output AI, memastikan kepatuhan, dan memastikan bahwa keputusan yang diambil masih diawasi oleh manusia, terutama dalam hal-hal yang berdampak besar seperti pemberian pinjaman, penanganan sengketa, dan pelaporan resmi.
Dampak Awal Adopsi AI
Beberapa area yang paling terpengaruh oleh adopsi AI di sektor keuangan termasuk:
- Operasional: Menyusun tanggapan, merangkum kasus, dan menyelesaikan pengecualian lebih cepat.
- Pengembangan Perangkat Lunak: Menghasilkan kode, menulis tes, dan mempercepat pengaturan klien.
- Layanan Pelanggan: Peningkatan layanan mandiri yang mengurangi panggilan ke agen, sambil memberikan dukungan real-time saat diperlukan.
- Dukungan Penjualan dan Onboarding: Mengambil data dari dokumen, mengisi formulir, dan mempercepat proses pengaturan klien.
- Pelaporan Regulasi: Mempercepat perakitan narasi dan bukti, dengan tinjauan ketat dan kontrol.
Strategi Goldman Sachs dan Dampaknya
Goldman Sachs, melalui program ‘OneGS 3.0’, fokus pada penggunaan AI untuk meningkatkan proses penjualan dan onboarding klien. Mereka juga menargetkan fungsi yang membutuhkan banyak proses, seperti alur kerja peminjaman, pelaporan regulasi, dan manajemen vendor. Perubahan ini terjadi seiring dengan pemangkasan pekerjaan dan penurunan laju perekrutan. Hal ini menunjukkan bahwa restrukturisasi tenaga kerja terkait langsung dengan perubahan alur kerja.
Konteks Global dan Nilai Ekonomi
Di tingkat global, International Monetary Fund (IMF) telah memperingatkan bahwa adopsi AI dapat memengaruhi sebagian besar pekerjaan. Laporan World Economic Forum (WEF) tentang Masa Depan Pekerjaan 2025 memproyeksikan pergeseran besar dalam tuntutan keterampilan saat perusahaan mengadopsi AI. Meskipun tidak ada angka pasti, McKinsey memperkirakan bahwa generative AI dapat menghasilkan nilai antara $200 hingga $340 miliar per tahun untuk sektor perbankan, terutama melalui peningkatan produktivitas.
Menyongsong Masa Depan
Dalam konteks ini, pertanyaan yang muncul adalah seberapa cepat keuntungan dari AI dapat dijadikan rutinitas sambil tetap menjaga jejak audit, keamanan, dan perlindungan pelanggan. Bank-bank di Wall Street harus mengelola transisi tenaga kerja dengan bijaksana, menawarkan pelatihan dan kesempatan baru untuk karyawan yang terpengaruh. Adopsi AI tidak hanya tentang efisiensi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi ini dapat menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi semua pihak yang terlibat.






